Jumat, 11 September 2009

ANTUSIAS UNTUK TUHAN

Di mana kita mendapatkan energi yang diperlukan untuk menjadi
pemimpin dalam dunia kita yang rumit ini? Sumber apa yang bisa kita
dapatkan untuk menolong kita mempertahankan integritas yang
diperlukan untuk bertahan dalam tantangan kita untuk menjadi
teladan? Dan sumber apa yang akan menolong kita untuk bertahan (dan
tidak kehabisan tenaga pada usia muda)?

Sumber pertama yang tersedia bagi pemimpin muda adalah antusiasme.
Kata antusiasme yang dalam bahasa Inggris adalah "enthusiasm"
diambil dari kata "en", yang berarti "dalam", dan "theos" yang
berarti "Tuhan". Kata ini berarti "penuh akan Tuhan".

Walaupun kata antusiasme tidak pernah muncul dalam Alkitab, gagasan
"penuh akan Tuhan" ada di seluruh Alkitab. Mereka yang memberikan
seluruh energi mereka dalam melayani Tuhan diteguhkan, sementara
yang suam-suam kuku ditolak. "Menyala-nyala" bagi Tuhan lebih baik
daripada "suam-suam kuku" (Wahyu 3:15-16).

Paulus menulis kepada Timotius dan mendesaknya beberapa kali untuk
menjadi penuh akan kuasa Tuhan dalam pelayanannya sebagai pemimpin
gereja.

- 2 Tim. 1:7 -- Tuhan telah memberikan roh kuasa, kasih, dan
disiplin diri untuk menguatkan Timotius dalam menghadapi
tantangannya.
- 1 Tim. 1:18 -- Paulus mendesak Timotius untuk tetap kuat dalam
memperjuangkan perjuangan yang baik.
- 1 Tim. 4:15-16 -- Lebih banyak perintah kepada Timotius agar dia
rajin, tekun, dan memberikan diri seutuhnya pada masalah-masalah
kepemimpinan.
- 2 Tim. 2:15 - Rajin mempelajari firman Tuhan.

Di hadapan penganiayaan (2 Tim. 3:12), Paulus menulis untuk
mendorong rekannya yang lebih muda untuk mempertahankan kerajinan,
bertekun, dan memikirkan Tuhan saja. Timotius tidak memiliki
kemampuan untuk melakukannya sendiri, Dia harus bersandar pada
kekuatan Tuhan dalam dirinya. Dia tidak bisa hanya setengah hati,
Dia harus berada di dalam Roh Kudus.

ANTUSIASME YANG DIBUTUHKAN

Konsep alkitabiah tentang dipenuhi oleh Tuhan (atau dipenuhi oleh
Roh Allah, Roh Kudus [Efesus 5:18]) tidak boleh dipandang rendah
sebagai sekadar kehebohan singkat, seperti antusiasme saat menonton
pertandingan bola di SMA. Antusiasme yang harus kita dapatkan
bersumber dari mendedikasikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan
tujuan-tujuan-Nya.

Pericles dan Demosthenes hidup pada era yang sama di Yunani.
Keduanya adalah pembicara ulung, namun yang satu adalah orator,
sementara yang lainnya motivator. Saat sang orator berbicara, orang
akan mengagumi kemampuannya merangkai suatu kalimat atau
memperdebatkan suatu pokok penting. Saat sang motivator berbicara,
orang-orang bangkit mengikutinya. Antusiasme memampukan kita menjadi
motivator.

Antusiasme untuk Mengenal Tuhan

Saya bertemu Gary di kampus Universitas Massachusetts. Dia baru saja
menyerahkan hidupnya kepada Kristus, dan seorang teman meminta saya
menemuinya untuk melihat bagaimana saya bisa mendorong
pertumbuhannya.

Gary tidak memiliki latar belakang Kristen. Dia belum pernah ke
gereja. Saat pertama kali bertemu dengannya, saya bisa melihat
ketertarikannya dengan iman yang baru saja ia temukan, sekaligus
kurangnya informasi spiritual dalam dirinya. Saya tahu dia harus
mulai membaca Alkitab, jadi saya memberikannya Kitab Perjanjian Baru
dan menyuruhnya membaca Injil Yohanes. Dua hari kemudian, dia
menelepon saya (kami seharusnya tidak bertemu sampai 5 hari
kemudian), "Apa yang bisa saya baca sekarang?" tanyanya. Saya
menunjukkan Surat Roma.

Beberapa hari kemudian, dia selesai membaca Roma. Pada minggu
pertama, dia sudah membaca semua injil yang lain. Pada minggu kedua,
dia sudah menyelesaikan seluruh Perjanjian Baru. Saya merasakan diri
saya tertarik pada Gary karena dia begitu kelaparan dalam
keiginannya untuk mengenal Tuhan. Kelaparannya pada Tuhan
menginspirasi saya. Gary telah menemukan relasi dengan Tuhan. Dan
dia mengejarnya dengan seluruh kemampuannya. Dia begitu berambisi
untuk mengenal dan menyenangkan Tuhan, seperti Paulus saat dia
menulis: "Supaya kami berkenan kepada-Nya" (2 Kor. 5:9). Gary tidak
ingin yang lain kecuali mengenal Tuhan, dan keinginan ini menguasai
hatinya, energinya, dan waktunya. Dia berjuang, bahkan sebagai
seorang Kristen muda, untuk menjadi seseorang yang fokus pada satu
tujuan.

Saat kita berjalan dengan Tuhan, semangat kita kadang pudar dan
gairah kita menguap. Mari kita berdoa seperti pemazmur agar kita
bisa menjadi orang yang fokus pada satu tujuan: "Tunjukkanlah
jalan-Mu, ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu;
bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu." (Mzm. 86: 11)

Antusiasme Menghubungkan Firman Tuhan dengan Dunia

Tema dasar buku John Scott tentang khotbah, "Between Two Worlds",
adalah bahwa khotbah yang baik itu membicarakan dunia Alkitab dan
dunia modern. Pengkhotbah yang efektif berusaha dengan penuh
semangat untuk mengaplikasikan kebenaran Injil pada budaya
kontemporer.

Paulus memberikan contoh semangat ini dalam 1 Korintus 9:16-17 saat
dia menggambarkan dorongannya untuk memberitakan Injil. Dia hidup
dengan perasaan bahwa dia adalah seorang duta besar Kristus (2 Kor.
5:20) yang sungguh-sungguh ingin semua pendengarnya dibawa kepada
Tuhan melalui Injil Yesus Kristus. Dia begitu bersemangat bahwa
dunia akan mengerti Sang Firman.

Antusiasme untuk mengaplikasikan firman Tuhan pada dunia akan
menular. Saat kita bersemangat menerapkan firman Tuhan pada zaman
kita, orang Kristen lain akan mengikutinya. John White mengingatkan
kita dalam "Excellence in Leadership" bahwa "orang tidak mengikuti
program, tapi pemimpin yang menginspirasi mereka. Mereka bertindak
saat sebuah visi menggerakkan mereka pada harapan akan sesuatu yang
lebih besar daripada diri mereka sendiri, harapan mencapai sesuatu
yang sebelumnya bahkan tidak berani mereka pikirkan".

Kepemimpinan berarti bersemangat mengaplikasikan firman Tuhan di
dunia. Saat kita tumbuh dalam semangat yang terfokus pada Tuhan,
kita akan menarik orang lain untuk mengikuti kita.

Antusiasme untuk Melihat Perubahan-Perubahan yang Tuhan Lakukan

Saat kita berdoa "datanglah kerajaan-Mu", kita meminta Tuhan untuk
membawa perubahan dalam dunia. Saat kita hidup oleh kuasa Tuhan
dan sungguh ingin melihat perubahan itu, kita mulai mengalami
antusiasme yang alkitabiah.

Antusiasme "jadilah kehendak-Mu" bukanlah suatu cara pikir positif
yang dengan lugu mengatakan "kalau kita pikir kita bisa, kita pasti
bisa", seperti suatu mesin kecil yang menanjaki bukit hanya dengan
menyenandungkan, "Saya bisa, saya bisa."

Antusiasme "jadilah kehendak-Mu" berarti bahwa kita tidak bisa
melakukannya dengan kekuatan sendiri. Kita harus bersandar pada
kekuatan Tuhan yang supernatural dan mengubahkan. Tapi bukan berarti
kita melankolis dan tidak memiliki harapan. Tidak ada pemimpin besar
yang pesimis. Dengan antusiasme "jadilah kehendak-Mu", kita dapat
memandang dengan optimis secara benar setiap kesulitan, karena
menyadari bahwa Tuhan dapat menggunakannya untuk kebaikan.

John Scott menyebut pemimpin dengan tipe antusias seperti ini dalam
"Involvement": "Tidak banyak yang dapat terjadi tanpa mimpi. Dan
agar sesuatu yang besar dapat terjadi, harus ada mimpi-mimpi yang
besar. Di balik setiap pencapaian, ada seorang pemimpi dengan
mimpi-mimpi yang besar."

Saat kita mencari Kerajaan Allah, kita dapat bersemangat untuk
memimpikan mimpi-mimpi perubahan yang akan Dia lakukan melalui
kepatuhan kita.

Antusias untuk Memercayai Tuhan bagi Karya-Nya dalam Orang Lain

Kami menganggap komitmen Bob kepada Kristus sebagai salah satu
kejadian paling menarik dalam 3 tahun terakhir. Christie telah
bersaksi kepada Bob, saudaranya, selama lebih dari 10 tahun. Tapi
kami jarang melihat Bob kelaparan secara rohani. Dia tampak bahagia
dengan hidupnya, dan dia menganggap komitmen kepada agama yang
dangkal saja sudah cukup.

Kemudian Tuhan mulai menjawab doanya (Christie). Bob mengungkapkan
keinginannya untuk pergi ke gereja, membaca Alkitab, dan
bertanya-tanya tentang iman. Christie menghabiskan waktu berjam-jam
bicara di telepon dengannya, menolongnya memahami komitmen pribadi
kepada Yesus Kristus.

Akhirnya, setelah suatu diskusi maraton, Christie bertanya pada Bob,
"Apakah semua ini masuk akal bagimu?" "Ya," jawabnya. "Apakah kau
mau menerima Kristus sekarang?" tanya Christie. "Ya, mau," jawab
Bob. Dan Christie membimbingnya berdoa menyerahkan hidup kepada
Kristus. Doanya selama bertahun-tahun dijawab! Tuhan telah melakukan
pekerjaan terbesar dalam hidup Bob. Kami sulit memercayainya, tapi
Tuhan telah melakukannya.

Rasul Paulus menjalani hidup yang penuh antusiasme akan apa yang
dapat Tuhan lakukan dalam hidup orang lain. Dia berkata pada jemaat
di Kolose bahwa dia ingin melihat mereka utuh dalam Kristus (Kol.
1:28), dan dia menguatkan orang-orang Filipi bahwa Tuhan akan
menyelesaikan pekerjaan baik yang telah Dia mulai dalam mereka (Fil.
1:6). Murid Paulus, Timotius, menerima banyak semangat darinya, yang
dengan antusias melihat bagaimana Timotius bisa menjadi utusan Tuhan
(lihat 1 Tim. 6:11-21). Paulus menunjukkan semangat yang besar akan
apa yang dapat Tuhan lakukan dalam hidup orang-orang.

APA YANG BUKAN ANTUSIASME

Antusiasme, menurut definisi "penuh akan Tuhan", tidak hanya untuk
pemimpin muda saja, tapi energi muda memampukan kita mendapatkan
antusiasme yang paling puncak.

Bagaimanapun juga, kita harus menyadari beberapa penggunaan semangat
yang salah dalam kepemimpinan.

Antusiasme Bukan Obsesi

Orang-orang Amerika yang gila kerja dapat menggunakan antusiasme
sebagai alasan untuk tidak pernah beristirahat. Dalam kebudayaan
kita yang berorientasi pada pencapaian, dorongan yang
obsesif-kompulsif dapat benar-benar menjauhkan kita dari Tuhan.

Dalam bukunya, "The Tyrrany of Time", Robert Banks menelusuri
beberapa obsesi budaya sehubungan dengan produktivitas sampai ke
akar budaya Anglo-Saxon. Sebagai contoh, dia mengutarakan bahwa
gerakan jam dalam bahasa Spanyol berarti "berjalan", sementara dalam
bahasa Inggris berarti "berlari". Dia menunjukkan bagaimana
perbedaan sederhana ini telah memengaruhi seluruh kebudayaan
sehingga menjadi terobsesi pada iblis kesibukan. Banks menulis
tentang aktivitas obsesif dalam budaya kita:

"Kegiatan itu sendiri, gerakan untuk kepentingan sendiri, telah
mengambil alih pertanyaan yang lebih mendasar tentang siapa mereka
dan tujuan mereka. Mereka yang terjebak dalam kesibukan hidup
tidak memiliki waktu dan keheningan untuk memahami diri mereka
sendiri maupun tujuan-tujuan mereka."

Pemimpin Kristen yang memiliki terlalu banyak tanggung jawab atau
komitmen, tidak sedang menunjukkan antusiasme pada Tuhan dan
kerajaan-Nya. Mereka hanya menunjukkan bahwa mereka terperangkap
dalam arus hidup modern yang kompulsif, yang berujung pada apa yang
oleh Paul Tournier disebut "kelelahan universal".

Antusiasme Bukan Kendali

Beberapa pemimpin mengklaim punya semangat besar untuk Tuhan dan
menunjukkannya dengan mencoba mengendalikan hidup orang lain. Dalam
kerinduannya yang salah untuk memimpin, para pemimpin ini memintal
semangat dengan kecenderungan memanipulasi orang lain.

Suatu saat dalam perjalanan hidupnya, semangat Pendeta Frank
terhadap Tuhan tercemari. Perjalanannya dengan Tuhan sebenarnya
memberinya semangat dan kepercayaan diri yang menarik banyak orang.
Pelayanannya berkembang, dan banyak orang datang padanya untuk
mencari jawaban atas masalah mereka. Sayangnya, semangat Pendeta
Frank pelan-pelan berubah menjadi keinginan untuk mengendalikan
hidup orang-orang yang datang kepadanya. Dia marah kalau ada yang
mempertanyakan perkataannya. Dia mengucilkan orang-orang yang tidak
menerimanya sebagai utusan Tuhan. Semangatnya menjadi salah arah.
Dia sekarang menjadi pendeta di suatu gereja kecil yang dia dirikan
sendiri. Dan dia mencoba mengendalikan hidup 35 orang yang bersumpah
setia kepadanya.

ANTUSIASME DAN KOMITMEN

Soren Kierkegaard menulis bahwa "kemurnian hati adalah untuk
menginginkan satu hal saja". Dari situlah antusiasme berakar --
untuk menghendaki satu hal saja, untuk menjadi seorang yang
menunjukkan komitmen untuk mengenal Tuhan melebihi apa pun.

Antusiasme tidak dapat dipisahkan dari disiplin-disiplin lain,
seperti belajar, doa, atau kepatuhan. Kita harus punya baik
"panasnya" semangat dan "cahaya" Injil.

D. Martyn Lloyd-Jones mengisahkan sebuah kisah lucu tentang
kombinasi komitmen tersebut dalam "Preaching and Preachers":

Ada seorang pengkhotbah tua yang saya kenal baik di Wales. Dia
adalah orang yang pandai dan seorang teolog yang baik. Tapi
sayangnya, dia cenderung sinis. Namun, dia adalah kritikus yang
andal. Suatu ketika, dia menghadiri sinode pada sesi terakhir saat
ada 2 orang sedang berkhotbah. Keduanya adalah profesor teologi.
Setelah profesor pertama berkhotbah, penghotbah tua yang suka
mengkritik itu menoleh ke orang di sebelahnya dan berkata, "Cahaya
tanpa panas." Kemudian profesor kedua berkhotbah -- dia adalah
seorang profesor yang sedikit lebih tua dan emosional. Ketika dia
selesai, si pengkhotbah tua berkata lagi kepada orang di
sebelahnya, "Panas tanpa cahaya." Dua kalimatnya benar.

Menemukan keseimbangan antara antusiasme dan komitmen kepada
"cahaya" menunjukkan pentingnya berkomitmen untuk meluangkan waktu
guna berpikir. Kita tidak boleh terlalu terbawa oleh antusiasme
sehingga kita berjalan maju membabi buta dan tanpa pemikiran.
"Semakin kurang kesempatan untuk berpikir," tulis Banks dalam
bukunya, "The Tyrrany of Time", "semakin tidak mungkin kita membuat
penilaian yang baik. Semakin kita tidak menilai dengan baik, semakin
tidak baik keputusan kita."

Antusiasme untuk Tuhan juga berarti bahwa kita bersedia "mati setiap
hari" untuk alasan Kerajaan Surga -- baik itu dalam pelayanan kepada
orang miskin atau menemukan Yesus dalam hal-hal sederhana dalam
hidup ini. Antusiasme bukan hanya emosi: ini adalah daya tahan yang
keras kepala yang diperlukan untuk bertahan menghadapi rintangan,
untuk bangkit saat jatuh, untuk bekerja keras mencapai tujuan-tujuan
yang lebih tinggi.

Kesimpulan

Energi masa muda kita harus dipersembahkan kepada Yesus Kristus
sehingga kita dipenuhi oleh kuasa-Nya. Energi kita bisa lenyap, tapi
Dia dapat terus menguatkan kita. Sumber utama kita sebagai pemimpin
muda adalah antusiasme yang kita dapatkan dengan dipenuhi oleh Roh
Kudus. Jendral Dwight D. Eisenhower mengilustrasikan kepemimpinan
yang antusias dengan meletakkan tali sepanjang 30 cm di atas meja di
depannya. "Jika saya mendorong tali ini," katanya, "arahnya tidak
jelas, karena ia bengkok sana bengkok sini. Tapi jika saya
menariknya, tali ini pasti mengikuti saya ke mana pun saya pergi."
Dia kemudian menyimpulkan pelajaran ini dengan menantang
rekan-rekannya untuk menjadi pemimpin yang bersemangat yang akan
menarik orang lain untuk mengikuti mereka.

Antusiasme -- gunakan dengan bijaksana, dan praktikkanlah. Banyak
orang menunggu untuk mengikuti pria dan wanita muda yang antusias
untuk Tuhan dan tujuan-tujuan-Nya. (t/Yenny)

Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
Judul buku: Leading The Way
Judul asli artikel: Enthusiasm for God
Penulis: Paul Borthwick

Sukses adalah kemampuan untuk bergerak dari satu kegagalan ke
kegagalan lainnya tanpa kehilangan antusiasme.


TETAP ANTUSIAS SAAT GAGAL

kesuksesan dan kegagalan merupakan satu paket. Tidak dapat
dipisah-pisahkan! Orang yang hanya memikirkan kesuksesan tanpa
memiliki keberanian untuk menghadapi kegagalan ibarat orang yang
hanya dapat bermimpi. Tanyakan kepada para pemimpin besar yang Anda
kenal, berapa kali mereka mengalami kegagalan sebelum meraih impian.
Kegagalan bukanlah sesuatu yang memalukan sepanjang kita mau belajar
darinya dan tidak mengulanginya di kemudian hari. Sebuah penelitian
ilmiah pernah menyimpulkan bahwa bayi harus jatuh sekitar 240 kali
sebelum dapat berjalan. Sayang, ketika tumbuh dewasa, kita tidak
lagi memiliki semangat seperti saat masih bayi. Kita cenderung mudah
putus asa. Sungguh ironis! Bagaimana dengan Anda?


__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com

0 komentar:

Poskan Komentar