(1Tim 1:15-17;
Luk 6:43-49)
"Karena tidak ada pohon yang baik yang
menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik
yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya.
Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak
memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari
perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang
jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap
dari hatinya." "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal
kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku
dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya -- Aku akan menyatakan
kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan --, ia sama dengan seorang yang
mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di
atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak
dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa
mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang
mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu
segera rubuh dan hebatlah kerusakannya."(Luk
6:43-49), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:
· "Kacang mongso
tinggalo lanjaran", demikian kata pepatah Jawa yang kurang lebih berarti 'anak-anak pasti akan mewarisi perilaku, cara
hidup dan cara bertindak orangtuanya'. Maka kami berharap kepada para
orangtua dapat menjadi teladan hidup dan cara bertindak bagi anak-anaknya.
Keunggulan hidup beriman atau beragama terletak dalam tindakan atau perilaku
bukan omongan atau wacana. Yang mengikat dan mendasari hidup dan cara bertindak
orangtua atau bapak-ibu adalah cintakasih; ingat dan kenangkan bahwa anda
berdua menjadi suami atau isteri dan bapak atau ibu karena dan oleh cintakasih,
dimana anda berdua saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap
akal budi dan segenap kekuatan atau tenaga. Di dalam bersama hidup sehari-hari
dimanapun dan kapanpun ada aturan atau tatanan hidup, agar hidup bersama
sungguh damai-sejahtera. Di dalam keluarga kiranya juga ada aturan dan tatanan
hidup, entah tertulis atau lisan, yang telah ditentukan oleh orangtua, maka
hendaknya anda sebagai orangtua tidak hanya berhenti pada memberi aturan,
tatanan, nasihat atau tuntunan, tetapi juga menghayati atau melaksanakannya
sendiri dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap
kekuatan/tenaga. Dalam kutipan Warta Gembira hari ini kita juga diingatkan
bahwa "yang diucapkan mulutnya, meluap
dari hatinya", maka baiklah kita mengusahakan untuk memiliki hati yang
baik. Untuk itu baiklah sering membaca berbagai tulisan atau karangan yang
baik, dimana di dalamnya kita dapat menemukan pikiran, pendapat, nasihat yang
baik dan kemudian kita hayati atau laksanakan dalam hidup sehari-hari dengan
berbuat baik kepada siapapun. Perbuatan baik dan hati baik akan saling
menguatkan dan memperteguh.
· "Perkataan ini
benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk
menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling
berdosa" (1Tim 1:15).
Inilah mungkin kata-kata atau tulisan yang baik kita renungkan dan hayati.
Mungkin kita adalah orang baik, namun demikian marilah kita juga berani berkata
dan menghayati bahwa "akulah yang paling
berdosa", sebagaimana juga telah pernah dinyatakan dan dicoba untuk
dihayati oleh para Yesuit, yang menyatakan diri sebagai pendosa yang dipanggil
Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya di dunia ini. Menghayati
diri sebagai pendosa yang dikasihi dan dipanggil kurang lebih juga berarti hidup
dan bertindak dengan rendah hati. Rendah hati merupakan keutamaan dasar
kebalikan dari sombong. Kita dipanggil untuk menjadi rendah hati, meneladan
Yesus "yang walaupun dalam rupa Allah,
tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus
dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil
rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia"(Fil 2:6-7). Para
orangtua hendaknya menjadi teladan penghayatan kerendahan hati ini di dalam
keluarga, antara lain berusaha 'menjadi
sama dengan anak-anak', yang berarti senantiasa siap sedia untuk dibina,
dituntun, dinasihati terus menerus sampai mati alias bersikap mental 'ongoing formation, ongoing education'. Sikap mental inilah kiranya yang sebaiknya
juga diwarikan kepada anak-anaknya, antara lain dengan teladan dari
orangtua/bapak-ibu.
"Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba
TUHAN, pujilah nama TUHAN! Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan
selama-lamanya. Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah
nama TUHAN. TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi
langit. Siapakah seperti TUHAN"(Mzm
113:1-5a)
__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com
0 komentar:
Poskan Komentar