Banyak orang kiranya masih hidup dan bertindak lebih mengikuti selera atau keinginan pribadi alias seenaknya sendiri. Gejala-gejala macam itu antara lain nampak di perempatan-perempatan atau persimpangan-persimpangan jalan, dimana beberapa pengendara sepeda motor atau mobil melanggar rambu-rambu lalu lintas seenaknya saja, yang dapat menimbukan korban manusia, kehilangan nyawa atau meninggal dunia. Apa yang terjadi di jalanan tersebut rasanya juga mencerminkan apa yang hidup dan terjadi di dalam keluarga, sekolah, tempat kerja/kantor atau masyarakat. Di dalam hidup berkeluarga misalnya dengan terjadinya perceraian suami-isteri, dalam sekolah atau dunia pendidikan para pelajar atau mahasiswa hanya belajar menjelang ulangan umum atau ujian, di tempat kerja orang bekerja ketika diawasi oleh atasannya, sedangkan di masyarakat orang hidup seenaknya tanpa memperhatikan situasi lingkungan hidupnya. Yang juga tak kalah memprihatinkan adalah dalam hal makanan:
cukup banyak orang makan hanya mengikuti selera pribadi, sehingga kurang gizi dan mudah jatuh sakit. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa taat dan setia pada kehendak Tuhan, yang antara lain diterjemahkan dalam aneka tatanan atau aturan.
"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya."(Mrk 8:34-35)
"Nyawa" adalah yang menghidupkan dan menggairahkan, sedangkan "menyelamatkan nyawanya" kiranya dapat diartikan hanya mengikuti keinginan, dambaan, kerinduan atau nafsu sendiri alias egois. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk meninggalkan egoisme kita dan kemudian "memikul salib dan mengkuti Tuhan". "Salib" bagi kita sekarang adalah panggilan, tugas pengutusan atau kewajiban, yang telah kita terima dari Tuhan melalui atasan atau pimpinan kita. Maka perkenankan saya mengangkat beberapa hidup terpanggil atau profesi sebagai berikut:
1) Pelajar/mahasiswa. Para pelajar atau mahasiswa yang telah memiliki KTP dalam identitas pribadi pada umumnya tertulis "pelajar" atau 'mahasiswa' yang berarti memiliki tugas perutusan utama dan pertama 'belajar'. UNESCO pernah mencanangkan 4(empat) motto dalam pembelajaran, yaitu : learning to be, learning to learn, learning to do, learning to live together. Yang baik untuk direnungkan dan dihayati adalah 'learning to be'. 'Learning to be' berarti ajakan untuk terus tumbuh berkembang sesuai kemampuan dan tuntutan zaman, sehingga menjadi pribadi yang professional dalam bidang tertentu. Maka kami mengajak rekan-rekan pelajar atau mahasiwa untuk bersikap mental 'terbuka' terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan. Hendaknya aneka tawaran atau ajakan untuk berbuat baik ditanggapi secara positif artinya dikerjakan. Hayati dan perdalam sikap mental 'belajar terus menerus' (ongoing education, ongoing education).
2) Pekerja. Para pekerja dalam KTP pada umumnya mencatatkan identitas diri sebagai 'buruh' atau 'pekerja', yang berarti tugas utama dan pertama adalah bekerja. Dalam UU terkait dalam hal bekerja dikatakan bahwa pekerja wajib bekerja secara efektif selama 6 s/d 8 jam per hari. Kami harapkan selama jam kerja tersebut para pekerja sungguh bekerja keras. "Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10). Orang yang sungguh bekerja keras dalam bekerja akan menjadi terampil dan professional dalam kerja, dan dengan demikian akan dikasihi dan dicari oleh banyak orang.
3) Suami-isteri. Dalam mengawali hidup baru, hidup berkeluarga calon suami dan isteri saling berjanji untuk saling mengasihi baik dalam untung dan malang, sehat atau sakit sampai mati, dan sebagai tanda kasih mereka saling mengenakan cincin pada jari manis mereka masing-masing. Cincin berbentuk bulat dan tiada ujung-pangkalnya, yang berarti melambangkan cintakasih yang bulat atau utuh dan untuk selamanya, sampai mati.. Mereka saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan/tubuh, sehingga tumbuh berkembang menjadi sehati, sejiwa, seakal budi dan setubuh, yang memang secara pihsik ditandai dengan sering bersetubuh atau hubungan seksual. Tanda bahwa suami-isteri sungguh saling mengasihi adalah mereka berdua akan tumbuh berkembang nampak sebagai manusia kembar. Kami mendambakan para suami-isteri atau bapak-ibu dapat menjadi saksi atau teladan dalam hal saling mengasihi.
4) Imam/pastor. Menjadi imam atau pastor berarti menjadi 'penyalur' rahmat/berkat Allah kepada manusia serta dambaan manusia kepada Allah, dan 'gembala' umat . Mereka juga sering disebut sebagai 'pelayan suci atau klerus', yang "dalam hidupnya para klerikus terikat untuk mengejar kesucian dengan alasan khusus, yakni karena telah dibaktikan kepada Allah dengan dasar baru dalam penerimaan tahbisan menjadi pembagi misteri-misteri Allah dalam mengabdi umatNya" (KHK kan 276 $1). Kami berharap rekan-rekan imam atau pastor bekerjasama dalam 'mengejar kesucian' maupun 'mengabdi atau melayani umat', sehingga cara hidup pribadi maupun hidup bersama menarik, mempesona dan memikat umat.
5) Bruder/suster . Para bruder atau suster juga sering disebut sebagai anggota Lembaga Hidup Bakti, kebersamaan hidup yang ditandai oleh pembaktian diri seutuhnya kepada Allah. "Kerasulan semua religius pertama-tama terletak dalam kesaksian hidup mereka yang sudah dibaktikan, yang harus mereka pelihara dengan doa dan tobat" (KHK kan 673). "Doa dan tobat" diharapkan mewarnai hidup para religius, bruder dan suster. Pada umumnya rekan-rekan religius cukup rajin dalam berdoa, antara lain mendoakan ibadat harian, maka kami berharap apa yang telah didoakan tersebut sungguh memperbaharui cara hidup dan cara bertindak (alias bertobat), sehingga semakin handal dan kuat dalam penghayatan spiritualitas atau charisma pendiri Tarekat atau Lembaga Hidup Bakti.
"Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia" (Yak 2:14)
Kutipan surat Yakobus di atas ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita semua, sebagai umat beriman. Keunggulan dalam hidup beriman terletak dalam perbuatan atau tindakan, maka marilah kita mawas diri perihal cara.hidup dan cara bertindak kita, apakah cara hidup dan cara bertindak kita telah sesuai dengan spiritualitas, visi atau arah dasar hidup dan kerja bersama dimana saya ada di dalamnya. Yang menyelamatkan dan membahagiakan adalah perbuatan atau tindakan bukan wacana atau omongan. "Cinta harus lebih diwujudkan dalam perbuatan daripada diungkapkan dalam kata-kata" (St Ignatius Loyola, LR no 230). Kita semua yang hidup dalam kasih kiranya membenarkan bahwa perbuatan nyata sungguh menyelamatkan dan membahagiakan. Para suami-isteri atau bapak-ibu kiranya dapat membagikan pengalaman saling mengasihi dalam perbuatan antara lain dalam persetubuhan atau hubungan seksual, bukan mendorong orang lain untuk melakukan hubungan seks bebas,
tetapi kebenaran bahwa perbuatan konkret dalam persetubuhan tersebut sungguh membahagiakan dan menyelamatkan.
"Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu! Mengapa bangsa-bangsa akan berkata: "Di mana Allah mereka?" Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya! Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium" (Mzm 115:1-6)
__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com
0 komentar:
Poskan Komentar