Rabu, 07 Oktober 2009

Kehidupan Itu Seperti Sebuah Perahu


Kehidupan manusia ibarat sebuah kapal, jika di dalam pelayaran hidupnya
terlalu banyak dan terlalu berat dimuat dengan keinginan (nafsu) materi dan
sifat sombong, maka perahu kehidupan ini sangat mudah kandas dan tenggelam
di tengah perjalanan. Jika ingin mencapai tepian kehidupan di seberang
sana dengan lancar, maka wajib untuk segera mengurangi muatan yang berat
itu, dan hanya mengambil batas terendah materi yang dibutuhkan untuk
kelangsungan hidup, dan dengan tegas melepaskan ketamakan serta nafsu
keinginan dalam hati manusia yang berlebihan. Baru-baru ini saya sering
mendengar perkataan beberapa teman melakukan investasi di saham atau
kegiatan MLM (multi level marketing). Uang mereka dalam jumlah besar telah
tertipu oleh pedagang curang. Dari teman-teman yang tertipu ini mereka
semua memiliki kelemahan yang sama, yaitu hati yang sangat tamak. Jika
dipikir dengan seksam a, akan segera dapat diketahui bahwa dalam investasi
dan perdagangan sangat mustahil untuk bisa mendapatkan keuntungan 50 kali
lipat hanya dalam satu kali raup, tapi masih ada saja orang yang dihantui
dengan ketamakan yang dengan mudah mempercayai perusahaan yang mengatakan
bahwa saham perusahaannya dapat naik 50 kali lipat, sehingga akhirnya
tertipu dan uangnya habis. Jelas-jelas mengetahui bahwa pengelolaan dan
aturan pembagian hasil dari perusahaan MLM tidak transparan, tapi ketika
kelihatan satu lembar cek tunai bernominal satu juta dollar, masih saja
beranggapan bahwa asalkan serius menjalankan MLM bisa segera menjadi
jutawan, cek tersebut juga sudah tidak perlu diperiksa lagi keasliannya dan
dengan mudah percaya pada janji orang lain, akhirnya uang dalam jumlah
besar pun habis tak bersisa hanya untuk membeli barang-barang tak
berkualitas yang menumpuk bagaikan gunung. Penduduk asli di Afrika
mempunyai cara yang unik untuk menangkap simpanse : Di dalam sebuah kotak
kayu kecil diletakkan buah-buahan yang berkulit keras yang disukai oleh
simpanse, pada salah satu sisi kotak tersebut dibuat sebuah lubang yang
besarnya persis sebesar tangan simpanse agar dapat masuk untuk mengambil
buah-buahan di dalamnya, begitu simpanse menjulurkan tangan ke dalam dan
meraih buah-buahan yang ada di dalam, maka tangannya tidak akan dapat
ditarik keluar lagi dari lubang itu, cara ini sering digunakan oleh
penduduk untuk menangkap simpanse. Sebab simpanse ada satu kebiasaan,
yaitu tidak mudah melepaskan benda apa pun yang telah digenggam dalam
tangannya. Orang-orang selalu menertawakan kebodohan simpanse : mengapa
tidak melepaskan buah dalam genggamannya itu lalu melarikan diri?
Sesungguhnya jika kita renungkan kembali hal yang terjadi pada diri kita,
kita juga akan mendapati bahwa tidak hanya simpanse yang bisa berbuat
kesalahan seperti itu. Di kampung halaman saya, semasa kecil dulu, pernah
terjadi bencana kebakaran, waktu itu ada satu keluarga yang miskin yang
berhasil selamat dari kobaran api karena tidak memiliki harta apa pun,
sehingga lolos dari mara bahaya itu. Sebaliknya tetangga mereka yang kaya
raya, menerjang masuk kembali ke dalam kobaran api dan berusaha untuk
menyelamatkan perabotnya yang mahal dan mencari uangnya, akhirnya tertelan
kobaran api dan tidak pernah keluar lagi. Kehidupan bagaikan perahu.
Semakin sedikit memiliki kekayaan benda materi, semakin ringan pula beban
dalam kehidupan ini, maka dari itu melepaskan ketamakan hati manusia akan
meringankan muatan dan bisa bergerak maju ke depan, maka manusia akan hidup
wajar dan lepas bebas. Kekayaan materi hidup tidak bisa dibawa serta, mati
pun tidak bisa dibawa pergi, tahu akan batasan dan mengekang keinginan
materi dan sifat sombong, maka pasti akan membuat perjalanan hidup ini
menjadi lancar, dengan lega dan mudah mencapai ke tepian di seberang sana
yang terang benderang. Sumber : www.erabaru.or.id

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com

0 komentar:

Poskan Komentar