KEHANCURAN
Yohanes 12:24-25
Kehancuran itu
menyakitkan dan kita kebanyakan lebih suka hidup tanpa saat-saat menderita.
Padahal, pada saat-saat seperti itu Tuhan seringkali melakukan karya
terbesarNya di dalam hidup kita dengan membentuk dan meluruskan kita kembali
kepada tujuan-tujuan ilahiNya.
Yesus dengan
indah menjelaskan prinsip kehancuran ini di Yohanes 12:24-25 dengan cara membandingkan hidup kita dengan biji gandum. Jika kita hanya
menggenggam biji gandum itu di tangan kita, tidak ada apa-apa yang akan
terjadi. Jika kita menyimpannya baik-baik di dalam pot atau laci lemari, biji
itu juga akan tetap tersimpan rapi di tempat itu. Dalam kenyamanannya, biji itu
juga akan tetap tersimpan rapi di tempat itu. Dalam kenyamanannya, biji itu
pada dasarnya tidak ada gunanya.
Namun, jika biji
itu ditanam di tanah yang sudah digemburkan, sesuatu yang menakjubkan akan
terjadi. Tidak beberapa lama, tunas kecil akan muncul dan mulai tumbuh menjadi
sesuatu yang berbeda, berguna dan indah. Lagipula tangkai baru itu akan
menghasilkan lebih banyak biji gandum yang dapat ditaman lagi dan
tangkai-tangkai yang dihasilkan lagi juga akan melakukan hal yang sama. Itulah
siklus kehidupan yang mengherankan; sebiji gandum dapat menjadi tangkai gandum
yang tak terhitung banyaknya. Tetapi semua itu harus dimulai dari kehancuran
sebiji gandum.
Yesus tidak hanya
mengucapkan perumpamaan ini: Dia juga menjalaninya. Dengan mengorbankan diriNya,
Dia sudah dihancurkan dan diletakan di dalam tanah. Dari kehancuran itu,
munculah kehidupan baru bagi kita semua. Dari satu "biji gandum" itu, orang-orang percaya baru yang tak terhitung
banyaknya, masing-masing dengan satu kehidupan baru lagi, terus bermunculan.
Apakah anda
sedang merasakan kehancuran hari ini? Jika ya, ingatlah prinsip kehancuran biji
gandum. Allah tidak pernah meninggalkan
anda: Dia mungkin justru sedang membawa anda ke dalam pertum
buhan baru yangradikal.
Komposisi Kam Konsentrasi
Bacaan hari ini: Mazmur 137
Ayat mas hari ini: Mazmur 137:4
Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia
11-14
Olivier Messiaen, seorang komposer Prancis, ikut diseret ke kamp konsentrasi
Nazi pada usia 31 tahun. Di sana Messiaen membujuk seorang penjaga penjara
untuk menyediakan kertas dan tempat untuk mencipta komposisi musik. Pada
Januari 1941, gubahannya yang berjudul Quartet for the End of Time ditampilkan
di depan 4.000 tawanan dan penjaga penjara. Sampai saat ini, komposisi itu
dianggap sebagai adikarya. Kitab Mazmur memuat nyanyian yang digubah dalam
suasana serupa. Seorang warga Israel yang ikut terbuang ke Babel meratap getir. Orang-orang yang menawan
mereka mengolok-olok, mendesak mereka menyanyikan lagu riang. Dengan
mengarahkan matanya ke Yerusalem, lambang penyertaan Tuhan, pemazmur ini
mengalunkan nyanyian yang pedih, tetapi penuh pengharapan. Terciptalah Mazmur
137.
Carolyn Arends, dalam artikel tentang hubungan antara kesenian dan iman,
menulis, "Ketika kita menyaksikan perubahan dari bahan mentah menjadi karya yang
indah, kita diingatkan bahwa suatu realitas baru yang lain dapat
diciptakan—bahwa mungkin keadilan bisa ditegakkan di tengah ketidakadilan,
pemulihan dapat berlangsung di tengah penyakit dan kemiskinan, keharmonisan
dapat ditumbuhkan di tengah kekacauan." Karya seni yang indah menggugah
pengharapan kita akan pemulihan.
Anda sedang berduka? Mengapa tidak mencoba mengungkapkannya menjadi karya seni?
Anda dapat melukis, menulis puisi atau cerita, merangkai bunga, menari, atau
menyanyikan lagu—sekalipun mungkin suara Anda parau dan sumbang. Ubahlah
dukacita menjadi keindahan!
SEBAGAIMANA ALLAH
MENCIPTAKAN DUNIA DARI KEKOSONGAN, KITA DAPAT MENGGUBAH ADIKARYA DARI
KESENGSARAAN
Penulis: Arie Saptaji
|||||| sumber: http://www.renunganharian.net/ ||||||
__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com
0 komentar:
Poskan Komentar